Kota Jakarta yang keras mendidikku dengan beringas. Sulit bertahan hidup di tempat yang sesak ini. Kejahatan selalu mengintai jiwa dan raga tak pandang bulu. Baru 2 tahun aku ditinggal Abah yang bekerja menjadi kuli bangunan kehidupanku benar-benar berubah. Aku harus menghidupi ibu dan adikku yang masih SD. Dengan berbekal ijazah SMK aku memutuskan untuk bergabung di dalam komunitas bakti sosial. Tak banyak uang yang bisa aku hasilkan, ibu yang sudah beranjak tua dengan profesi sebagai buruh pabrik tak cukup mampu untukku menjadi perempuan metropolis yang identik dengan hidup glamour. Keringat dan airmata kami hanya untuk Tian, adik bungsuku. Dialah harapan kami untuk kedepannya. Aku akan terus memperjuangkannya seperti amanah Abah sebelum beliau meninggal.

Sebenarnya bisa saja aku mendapat uang banyak dengan mudah. Tapi, aku harus rela menggadaikan harga diri dengan menjadi orang yang tidak benar. Atas nama Abah, aku tidak akan menambah keburukanku menjadi manusia yang sudah sarat dengan dosa. Begitu banyak perempuan-perempuan cantik seusiaku yangmengahbiskan malam di dengan laki-laki tidak bermoral. Latar belakang keluarga mereka tidaklah semua susah, bahkan mereka adalah anak-anak orang kaya yang membutuhkan teman atau mungkin hanya mengikuti piciknya zaman.

Waktu mepertemukanku dengan laki-laki sholeh bernama Abas. Seorang yatim yang tinggal disebuah kontrakan kecil dengan ibunya yang sudah renta. Namun, Abas adalah seorang mahasiswa sebuah Universitas terkenal. Dia adalah mahasiswa jempolan yang dibanjiri beasiswa karena bakat dan kepintarannya. Aku sangat mengenal Abas, keluarganya adalah pendatang dari Jawa Timur… sebuah tempat indah dikaki gunung Bromo, Sukapura namanya.
“Malika, andai kamu tau tempat dimana aku lahir… pasti kamu akan merasa iri” begitu bisanya dia menggodaku.

Abas dan keluarganya adalah korban iming-iming cerita para perantau yang mengatakan bahwa Jakarta adalah surga yang penuh gemerlap cerita indah seperti ditelevisi. Ayah Abas adalah seorang mandor bangunan yang sukses, namun Ayahnya meninggal saat dia baru masuk tahun kedua saat kuliah. Alhasil sejak saat itu Abas tak henti mengejar beasiswa demi melanjutkan kuliahnya. Namun, meski begitu Abas tidak hanya ingin bergantung pada beasiswa saja. Dia tak segan menghabiskan malam harinya menjadi tukang parkir sebuah mall besar.

Kesederhanaan dan kemandirian seoarang Abas membuatku jatuh cinta. 3 tahun kami menjalin hungungan meski bolak balik putus nyambung. Abas sudah menyelesaikan kuliahnya, kini dia adalah pemuda dengan gelar S1 Teknik Sipil. Abas nampak gagah dengan baju Toga waktu acara wisudanya. Saat itu aku hadir, ikut mendampingi ibunya yang sudah tidak kuat untuk berjalan. Kami sempat menyempatkan diri untuk foto bertiga, seperti sebuah keluarga menuruti permintaan ibunya.

Tak henti aku memandangi fotonya, saat itu lah ibu tak terasa sudah berdiri dibelakang pundakku.
“Abas pemuda yang baik, ibu suka…” kata ibuku pelan membuat dadaku berdebar.
“Ah, Abas baru saja lulus Bu… pasti dia masih memikirkan pekerjaan dan mematangkan hidup” elakku malu.
Kata-kata ibu terngiang berhari-hari ditelingaku. Hingga suatu hari disebuah taman kota…
“Hubungan yang serius?” tanyanya.
Aku mengangguk. Dia diam saja, wajahnya terlihat tertekan. Aku pegang lembut tanggannya, dingin.
“Aku tidak memaksa, hanya saja…” kataku tertahan.
“Malika… maaf, aku belum bisa” tanggapnya sendu.
Aku kecewa, namun aku tutupi semua dengan seulas senyum tipis.
“Aku harap kamu paham posisiku, aku takut gak bisa kasi kamu penghidupan yang layak”
Aku mulai meneteskan airmata.
“Di satu sisi, aku butuh kamu untuk ibu dan masa depanku… kamu tau kan cuma kamu dan ibuku harta yang aku miliki” katanya sendu membuatku sadar mungkin aku memang terlalau cepat meminta pernikahan.
Dia mengusap pipiku lembut, lalu mengelurkan sesuatu dari sakunya… cincin.
“Ini… titipan dari ibu, buat kamu” katanya sambil memasangkannya di jari manisku.
Aku terlonjak sampai tak bisa berkata-kata.
“Ini cintin pernikahan ibu, di jaga yah…” katanya sambil tersenyum.
“Terima kasih” kataku bergetar. Kalau saja aku tidak buru-buru sadar mungkin aku sudah meloncat kepelukannya.
Dia memandangku dalam beberapa lama sampai membuatku salah tingkah.
“Besok… aku ke Timika” katanya.
Aku berharap pendengaranku salah, bibirku kelu bingung akan menanggapi seperti apa.
“Apa?!” tanyaku kaget.
“Aku ke Timika… besok, aku akan berlayar” katanya lagi membuatku bergetar, tak ada lagi hasratku untuk berkata-kata. Kali ini aku sudah mengerti jalan fikiran Abas. Dan akhirnyapun aku membiarkannya pergi berharap dia cepat kembali lalu membangun keluarga kecil yang aku impi-impikan.

Sejak kepergian Abas ke Timika, ibunya tinggal denganku. Ayah Abas sebagai teman Abah sewaktu bekerja dulu membuat hubungan ibuku dan ibu Abas seperti keluarga saja. Abas membantu kebutuhan keluarga kami. Jarak yang jauh malah tersa semakin dekat. Hingga suatu saat 2 bulan lamanya Abas tidak mengirimkan kabar, kami semua panik. Berulang kali aku mendatangi agen tempatnya bekerja tapi mereka bilang mereka juga belum mendapatkan kabar apapun.

Hingga suatu hari, 3 orang TNI mendatangi rumahku. Perawakan mereka begitu sangar, namun sepertinya hari ini mereka nampak lemah.
“Kapal yang ditumpangi Abas Trinata diserang pembajak, beliau… meninggal dunia” ucap sang tentara pelan.
Seketika duniaku bergoncang, seperti ada batu besar menimpa kepalaku, kerongkonganku tercekat.
“Kembalikan anakku…??!!” terak ibu Abas membuatku semakin tak berdaya.
“Kami masih dalam proses penyelidikan Bu…” jawab sang tentara sendu.
Tak banyak yang bisa kami lakukan waktu itu. 3 tentara itu hanya meninggalkan  sebuah koper milik Abas. Ibu Abas kehilangan kesadaran ditemani ibu dan adikku. Sedangkan aku mengunci diri di kamar, aku menangis sampai kepalaku sakit serasa ingin mati. Perlahan ku buka kopernya yang usang. Terlihat baju-baju yang biasa ia kenakan dulu, sebuah sajadah merah pemberianku, beberapa pil sakit kepala, pistol tanpa peluru, dan sepucuk surat.

Hindia, 15 Mei.
Assalamu’alaikum Malika.
Kekasihku yang tak pernah memburam meski lautan yang hampa terus meranjau disetiap ku layangkan pandang. Aku harap kau dan keluarga sehat tak kurang suatu apapun. Malika, maafkan aku sudah membuatmu menunggu. Aku juga ingin cepat pulang dan melamarmu, aku ingin kita cepat utuh menjadi sebuah keluarga. Menemani hari tua ibu-ibu kita dan memberi mereka cucu-cucu yang lucu.
Terimakasih sudah mau merawat Ibuku, harta terindahku…
Jaga dan sayangilah beliau seperti ibumu sendiri, kepada siapa lagi akan kutitipkan hari-hari tuanya jika bukan padamu? Perempuan yang paling aku percaya dan kasihi. Sampaikan pada Ibuku, bahwa aku sangat mencintainya. Tunggulah lajangnya ini datang dengan selamat. Jangan pernah putuskan do’anya untukku. Tanpa dia aku bukan siapa-siapa…
Malika, lautan mengingatkan aku bahwa Allah itu Maha Besar…
Lebih besar dari yang bisa di bayangkan manusia…
Kehidupanku serasa begitu dekat dengan maut tipa waktu…
Ombak samudra begitu besar, sampai membuatku ingin menangis dipelukan ibu…
Angin adalah temanku, teman yang sering kutitipkan ciuman kecil dariku untukmu…
Apa itu sampai…??
Hatiku tidak pernah membiarkan aku meragu menjalani ini, karena ini adalalah awal pembuktian aku ingin kau bahagia. Aku harap kau juga melakukan hal yang sama.
Malika, jika saja suatu waktu mungkin aku tidak kembali. Berjanjilah untuk tetap menjalani hari-harimu seperti biasa. Lanjutkan hidupmu dengan laki-laki yang bisa membimbingmu ke surga Allah. Simpan rapat-rapat bayanganku, dan jangan pernah mengungkitnya lagi. Berjanjilah jangan pernah menangisi kepergianku. Menikahlah, dan jadilah istri yang mencintai suami dan anak-anakmu. Aku sedang tidak ingin membuatku takut, hanya saja aku takut tidak sempat mengatakan ini padamu…
Aku mencintaimu…
Malika, tunggu aku sebisamu saja sayang…

Abas
                Airmataku menetes memercik ke atas tintanya. Dadaku sakit tak sanggup menyebut namanya.

Hidupku terasa berakhir saat itu, kenagan-kenangan yang melintas tanpa izin di otakku membuat aku sekarat tak dalam sehari namun sampai 3 tahun kepergiannya. Yah, kini Abas pelautku sudah tertimbun air samudra, tapi tidak dengan cinta dan penantianku. Ibu Abas juga telah meninggal dunia, namun sukur beliau meninggal dalam keadaan yang baik. Dia bisa mengikhlaskan putranya lalu memilih menyibukkan diri dengan mengingat Allah hingga beliau meninggal karena sakit setahun setelah kepergian Abas.

Aku belum bisa menerima orang lain menggantikan Abas. Aku menjalani hidup seperti sebelumnya, menyibukkan diri dengan kegiatan sosial. Yah, aku bahagia… tak lagi terbersit di fikiranku untuk menjalin cinta. Aku hanya ingin hidup sendiri dan mengabdikan sisa umurku pada kenangan-kenangan yang ditinggalkan Abas dulu, pelautku yang tak pernah kembali.



Bumi Allah
 Pajarakan

0 komentar:

Posting Komentar