Saat itu aku sudah berbicara dengan cara dan rencana yang paling
baik aku punya. Aku duduk mantap menghadap orang tuaku. Aku tidak menagis, aku
mengatakannya dengan tegas dan percaya diri “Aku ingin kuliah Sastra dan Budya
di Malang”. Mereka tidak melarang, bahkan keduanya terlihat bangga tapi aku
merasakan ketidak berdayaan dalam perkataan mereka selanjutnya “Kami tidak
bisa… lanjutkan pendidikanmu disini saja, ilmu dimanapun akan tetap sama”. Aku
menagtupkan kedua bibirku, itu penolakan pertama dari orang tuaku selama aku
hidup. Aku memilih diam dan bertanya sendiri “Kenapa harus aku?”.
Aku berusaha
terlihat tegar, berusaha tetap ceria dan menjalani hari-hari dengan biasa saja.
Tapi ketika melihat sosok perempuan itu aku tidak bisa menahan air mataku “Bu
Guru, saya akan masuk TI di sisni saja” dia menjawab “Alhadulillah, semoga
Allah membukakan masa depan yang indah untukmu dari sana” katanya. Malam itu
aku bermalam di rumah mungilnya, kamar yang gelap masih terkalahkan dengan
gelapnya hati dan fikiranku saat itu. Aku menatap bulan dari jendela kamar,
indah sekali sampai aku ingin segera menemui pagi untuk melukisnya. Tiba-tiba
Bu Guru menghampiriku, aku pura-pura terlelap tapi isak tangisnya tidak bisa
menahanku untuk tetap pura-pura tertidur “Ibuuu…” pekikku sambil menangis “Saya
tidak ingin kuliah lagi…” imbuhku sambil memeluknya “Iyah, ibu tahu ini bukan
jalan yang kamu inginkan sejak awal” katanya sambil mencium keningku dan memelukku
erat. Entah siapa yang aku peluk malam itu, Bu Guru yang biasanya mengajarku di
kelas?, perempuan yang meng-anakkanku?, ataukah malaikat yang selalu menjagaku?
yang jelas aku sangat mencintainya.
Aku adalah
mahasiswi Teknik Informatika setelah itu. Awal waktu aku biasa saja, aku rajin
mencatat apa yang disampaikan dosen. Aku ingin tetap berusaha untuk kedua orang
tuaku, orang-orang yang mendo’akanku, kakak tingkat yang mengatakan padaku agar
aku selalu berteriak pada diriku sendiri “From zero to hero”, untuk
teman-temanku yang selalu mendukungku dan menyemangatiku saat aku mulai merasa
kesal dan menyesal. Semester pertama aku masih bisa berjalan beriringan.
Mencatat dan melukisi buku catatanku dengan pensil warna-warni, itu membuat ku
semakin bersemangat.
Hingga suatu
sore yang terasa mendung meskipun matahari bersinar kemerahan di arah barat.
Aku bersiap untuk meyembarang jalan untuk pulang, sampai ditengah jalan
tiba-tiba kakiku tidak bisa digerakkan sedangkan mobil biru itu mengklakson
tepat hanya beberapa meter disampingku… tapi ku tetap tak bisa bergerak seakan
ku lupa bagaimana caranya untuk melangkah Ya Allah… akhirnya aku bisa bergerak
di saat-saat terakhir. Aku berjalan dengan senyum kelegaan disepanjang gang
rumah. Hingga setelah aku mengetuk pintu, aku merasa memasuki rumah yang
salah…. Baiti jannati? Ah… aku tidak percaya itu sejak hari itu. Semua mulai
berantakan, aku dia baikan.
Pertengkaran
orang tua yang membuat anak frustasi dan membuat anak gila dengan melakukan
hal-hal tidak benar aku kira hanyalah skenario di film cengeng saja, tapi aku
benar-benar mengalaminya. Caci maki yang tidak pernah aku dengar sebelumnya
mulai aku hafal denga sendirinya terbawa kemanapun aku pergi saat aku makan, di
jalan, di kelas sampai ke dalam sujudku. Malam demi malam aku semakin rajin
membuat bantalku basah dengan airmata. Sejak itulah ibadahku sudah tak tersa
nikmat, ibadah hanya terasa seperti rutinitas harian saja. Kuliahkupun mulai
terbengkalai, buku catatanku yang penuh dengan materi kuliah mulai beralih
fungsi menjadi buku harian denga segala macam hal curahan hati, dan do’a dalam
keluhan. Tak hanya cukup sampai disitu, jejaring sosial yang awalnya ingin aku
jadikan sebagai media silturahmi dan sharing tanpa aku sadari telah penuh
dengan status pasaran.
Aku merasa
sendirian, kembali kerumah mungil Bu Guruku seperti hal yang paling sulit aku
lakukan. Aku mencari kesenangan dengan caraku sendiri dengan mengakrabi
musik-musik Korea sebagai pengantar tidur. Kegilaanku mungkin membuat sebagian
orang merasa kesal atau bahakan kasihan. Mereka mulai mengkritikku dengan
berbagaimacam cara yang mereka mau. Tapi ‘kepedulian’ itu terasa tidah adil
bagiku, aku merasa mereka kompak untuk menyudutkanku tapi mereka memuai saat
aku butuh bercerita dan mencari solusi. Hanya pada satu orang aku mau diam dan
mendengarkan. Sosok yang mengatakan hal yang baik dengan cara yang unik, cara
yang bisa ku terima karena dia mengatakannya langsung dihadapanku bukan seperti
orang lain yang berbisik-bisik dibelakangku tanpa membuktikan apa-apa. Sejak
saat itulah aku mulai jatuh cinta….
Kepolosannya
adalah ketenangan, kebijakannya adalah ketentraman dan kehadirannya adalah
anugerah. Aku berkata pada dunia “Sebentar lagi mungkin aku bangkit…”. Selanjutnya
aku mulai tidak tenang, dan dalam ketidak tenangan itulah aku mulai menyairkan
satu lagu yang bisanya tak pernah sampai habis aku dengarkan…
1 detik lalu dua hati terbang tinggi
Lihat indahnya dunia membuat
hati terbawa
Dan bawaku kesana dunia
fatamorgana
Teramanja-manja oleh rasa dan
ku terbawa terbang tinggi oleh suasana
Dari sudut mata jantung hati
mulai terjaga
Berbisik ditelinga coba ingat
semua.
Dan bangunkalah aku dari
mimpi-mimpiku,
Sesak aku disudut maya dan
tersingkir dari dunia nyata
Dan bangunkanlah aku dari
minpi indahku
Berangan-akanku berlari dari
rasa yang harus kubatasi
Dan kau menawarkan rasa cinta
dalam hati
Ku tak tahu harus bagaimana
untuk raba mimpi atau nyata
Dan bedakan rasa dan suasana
dalam rangka sayang atau cinta yang sebenarnya
Dan bangunlah aku dari buta mataku
jangan pernah lepaskan aku tuk tenggelam didalam mimpiku
Dan benar… Allah tidak sampai membuat aku menunggu lama untuk
memperlihatkan peran yang harus aku jalani. Aku akan belajar cukup untuk
meperhatikannya sampai jauh. Aku tidak mau cerita klasik ini akn mengganggu jalannya
dan jalanku, aku harus terbiasa dengan hidupku sendiri, aku harus bangkit tanpa
harus menghancurkan pendiriannya. Dan aku membuat jarak denga cara semestinya,
terserah dia menganggap aku apa… aku sama sekali tidak peduli, aku hanya ingin
menjaganya.
Tak sampai disitu rupanya Allah mengujiku dikeadaan rawan ‘butuh
seseorang’ seperti waktu itu. Akupun bertemu dengan orang baru namaun terasa
telah mngenalku lama… lama sekali. Aku begitu nyaman dengannya hampir tak ada
cela. Semua berangsur angsur indah, masalah dirumah terasa lebih ringan karena
kata-kata positif dan kepercayaan dirinya menyampaikan. Kali pertama kau
berangkat ke kampus dengannya, dan kali pertama aku berharap jarak kampus akan
bisa menjadih jauh, jauh, jauh, jauuuh… karena aku sedang dengannya. Benda yang
tak mau kusebutkan itu semakin melengkapi kepercayaanku bahwa aku tidak pernah
sendiri, aku berfikir ternyata Allahbisa menggerakkan hati siapun untukku. 28
minggu dan akhirnya kisahku berakhir dengan skenario paling aku benci. Hanya
berdo’a Allah bisa segera membalikkan hatiku kesisi yang paling Dia ridoi, dan
aku tak butuh waktu lama untuk itu.
Aku kembali GALAU, tapi di balik 5 huruf yang merangkai arti
yang buruk itu kutemukan makna yang lain, yang jauh lebih lucu dan menyenangkan
tentang GALAU yang bermakna God Always Listening And Understanding… yeyyy…!!
Semua terasa indah begitu saja. Kemudian aku memutukan untuk kembali ‘melihat’
ke kisah klasikku pertama tapi dengan pandangan yang berbeda. Aku tak lagi
mengiinginkannya seperti dulu. Mudah saja untukku menghilangkan apa yang
disebut rindu, aku cukup mneybut namanya dan kemudian berusaha untuk tidak
sering melihatnya karena itu pupuk yang salah. Aku tidak peduli dia berbuat
apa, apakah dia mencintai orang, sedang tersenyum, sedang tertawa, sedang
positif thinking, sedang bangga, sedang besar kepala… aku benar-benar tidak
peduli jika dia bahagia. Tapi, aku selalu berfikir “Apakah dia akan sedih hari
ini? Apakah dia sedih hari ini?” selebihnya cukup dulu. Karena aku bahagia jika
dia bahagia karena orang lain, daripada dia dia bersedih karena orang lain…
Dalam keacuahan itu, aku lebih ingin berkutat dengan sahabatku.
Ada dua orang yang paling aku sayang sebenarnya. Meski lama terpisah dan
sekarang masih tetap mencintaimu “Tomat”. Kamu orang paling bisa me ukiskan apa
itu keindahan dengan begitu gampang. Yang selalu ada buatku saat aku datang
dengan bendungan airmata, aku hanya ingin menumpahkan di depanmu. Aku tidak
pernah canggung padamu, seberat apapun beban di punggungmu kamu selalu bersedia
menaruhnya untuk menggendongku saat aku sudah lelah. Terkadang aku tidak
menyangka di balik badanmu yang lebih pendek dariku, kamu perempuan dengan
enegri yang tinggi menjulang, lebih tinggi dari pada pandanganku sendiri.
Terimakasih…

Dan selanjutkan kamu, yang biasanya selalu memandangku dengan
wajah tertekuk. Yang benar-benar terlihat bosan mendengarku mengeluhkan ini dan
itu. Hanya didepan laki-laki sepertimu aku berani menagatakan apapun yang ada
dalam otakku dengan mimik muka yang bisa aku tunjukkan dengan bebas. Aku tidak
peduli seberapa jahat kamu memberiku nilai atas usahaku yang hampir tidak
pernah sesuai dengan teorimu. Aku akan membelamu saat oarng lain mengatakan
kamu jahat, meskipun terkadang itu benar. Itu karena mereka hanya menangkap apa
yang kau katakan bukan apa yang kamu maksudkan. Semua maksud dalam perkataanmu
adalah ilmu yang tidak akan pernah akan didapatkan di bangku sekolah atau
kuliah. Ilmu yang hanya keluar dari mulutmu saat kamu benar-benar sudah tidak
tahan melihatku yang semakin hari malah semakin bodoh. Meskipun aku tidak tahu
siapa kamu sebenarnya, tapi terima kasih sudah mau mengenalku dan keluargaku.
Akau akan tetap menjadikanmu dalam daftar teman terkeren, meski kamu akan
mengatakannya “Gak penting banget kamu Tik…!!”, sampai seribu kalipun tidak
akan aku dengarkan ^o^
Kemudian untuk satu nama manusia lagi yang sebenarnya tidak
ingin aku sebut, yang sedang tertidur lelap saat aku mengetik ini. Adekku, si
bungsu yang sudah menggangguku hampir 17 tahun. Siapa yang akan menyangka kamu
akan lebih berpengalaman dalam beberapa hal dariku, jika di ingat kemarin masih
sekedar sosok kecil hitam berambut ikal yang selalu mengikutiku kemanapun aku
pergi. Dan sekarang kamu sudah tumbuh menjadi gadis pintar, cantik dan sehat.
Aku ingin kamu merasakan hal-hal yang memabhagiakanku selama aku hidup dan aku
tak ingin sedikitpun ingin kamu merasakan beban dan kesulitan yang pernah aku
rasakan. Aku ingin Allah menunjukkan kekuasaannnya padamu dengan hal-hal yang
indah… love u love u love u love u
Dan untuk semuanya, untuk guru TK ku yang cantik dan masih
sering menjengukku kerumah (kebalik yah… hehehe), Pak Kumis guru SD yang suka
mengirimiku gambar-gambar plus pesan-pesan paling keren sedunia, Wali kelas
Tsanawiyahku yang lebih keren daripada motivator yang sering muncul di teve,
Bunda dengan hijab lebar nan cantik yang selalu mendo’akanku meski tidak pernah
aku minta, buat temen-temen sekolah yang udah nyaksiin betapa culunnya aku
dengan seragam TK, merah putih, putih biru, putih abu-abu, sampai temen kuliah
yang sering tidur masal di kosan terima ksih sudah mau ambil peran dalam secuil
kisah dari Allah ini lewat aku yang kadang tidak tahu harus memainkan peran
seperti apa dalam hidup kalian… terimaksaih ^^
Ooopss… juga buat geng STRONg yang selalu bikin aku pusing
dengan PR-PR kalian tiap malam. Terima kasih udah ngeliat aku sebagai orang
terpandai dalam genk… hahaha. Pengen nyolek Mifta, Aus, Andik, Nurul, Luqman,
Rahman, Adim, Samir, Gedy, Desy. Dela, Muna, Nadia, Dian, Rindy dan Firda.
Dan kalian, yang udah jadi perantara Allah buat aku ada di dunia
Adi Muhammad dan Aminatus Sa’diah. Tanganku masih kosong tapi hati dan
fikiranku sudah penuh… love you <3
Cerita kita belum berakhir… J J J J