Aku tidak
pernah semarah itu, karena selama ini kita sama…
Apa yang aku katakana
terlontar begitu saja, bahkan tanpa sadar sedikitpun…
Sebenarnya
aku masih enggan untuk meminta maaf, karena kau merasa dikorbankan…
Kadang aku
jenuh ketika diam dan diharuskan untuk bersabar…
Mengapa sulit
untukmu kembali…?
Sedang kaupun
sadar ada rindu kami yang tak kan terbeli…
Mengapa sulit
untukmu untuk sembuh…?
Sedang kaupun
sadar kami telah lama pilu…
Kemana arah
kami, jika kau tak lagi mengimami…
Jika tiap
waktu yang kau fikirkan hanyalah jalanmu sendiri…
Mau kah
sebentar kau mau dengarkan kami, bahwa kami butuh pengakuan dan diperjuangkan…
Kami tak
butuh status anak yang ber ayah, bila nyatanya kami serasa yatim…
Tak inginkah
kau kembali seperti dulu…
Dimulai
dengan menghilangkan hayalanmu…
Mengajak kami
untuk kembali bersyukur dalam rapatnya shaf seperti beberapa waktu lalu…
Dengan takbir
pelan nan bergetarmu…
Ayah… kami
rindu
Sedikit
teguran kala kami salah, bukan pukulan yang meraba wajah…
Ayah… kami
rindu
Sedikit
elusan saat kami berhasil melakukan sesuatu, bukan suara lantang untuk kami
berbuat lebih
Jangan
membuat kami bembencimu Yah…
Karena kami
ingin kita tetap satu hingga sampai dunia setelah fana kelak…
Jangan
membuat kami mengeluh Yah…
Karena kami
sudah lelah menulis sajak yang salah untukmu, Ayah…



