Aku ingin berkata aku bahagia, karena hampir pada setiap sudut aku dipandang aku akan terlihat bahagia dan beruntung. Tapi jika saja mereka bisa melihat ku lebih dalam maka mereka akan menemukan aku yang sedang tertekan. Aku sering berharap ini hanyalah sebuah mimpi. Aku ingin jujur bahwa algoritma dan pemograman bukan sesuatu yang baik buatku. Aku tidak peduli masa depan akan banyak di gerakan oleh kemajuan teknologi yang seperti apa. Aku tidak peduli apa aku akan hanya menjadi ‘pengikut’ zaman, aku benar-benar tidak peduli. Aku ingin bebas…. Tapi apa yang aku harus lakukan diwaktu yang sudah menipis ini…? Ini bukan duniaku.
Aku ingin kembali menjadi apa yang aku banggakan seperti beberapa waktu lalu. Aku tidak suka mempelajari bahasa mesin yang sama sekali tidak aku pahami. Aku ingin memegang pensil yang berwarna-warni lagi, aku ingin hidup jujur…. Aku ingin menjalani hidup dengan sederhana saja, sesuai dengan kemampuanku. Meski itu sangat kecil.  Aku tidak ingin meimkirkan hal yang pada ujungnya tidak bisa aku lakukan dengan sempurna. Aku ingin melakukan kewajibanku dengan keampuanku yang sebenarnya, bukan dengan kekuatan yang aku buat-buat. Aku ingin kembali tidak bergantung pada orang lain meskipun itu kecil aku ingin bisa melakukannya sendiri.
Aku bisa melukis dan menulis apa yang aku fikirkan tanpa peduli orang lain akan menghargai atau tidak. Aku ingin mencipatan karya yang orang bodohpun bisa menilainya, bisa merasakan tenaga didalamnya, bisa membuat mereka bahagia karena mereka mengerti bukan karya yang hanya aku buat untuk mendapatkan nilai dan pengakuan dari orang-orang pandai. Karena aku mau karyaku bisa di pahami oleh semua orang….
Aku tidak peduli jika harus hidup seperti bunga matahari…
Pernahkan kamu mau memperhatikan sedikit bunga yang tidak menarik itu…?
Seberapa berusahanya dia, dia tetap tidak akan menggantikan yang menggantung dilangit saat siang hari itu…
Dia tidak akan bertahan hidup dalam waktu yang lama, tapi dia mampu tumbuh lebih cepat daripada bunga lainnya… itu benar…! Jangan selalu memikirkannya secara terbalik dia tumbuh lebih cepat tapi dia mudah mati.
Dia hidup tidak pernah menuntut untuk mendapat air untuk akarnya menembus kerasnya tanah, tidak pernah menuntut pupuk untuk daunnya melebar, dia tidak menuntut udara yang nyaman untuk merekahkan mahkotanya… bunga matahari tidak pernah menuntut banyak dia hanya butuh kepercayaan seseorang untuk mencoba menanamkan kuacinya dalam tanah.
Dia bukan bunga yang cantik, seberapa lebar mahkotanya berkembang tidak sedikitpun wangi yang bisa dia tebarkan sebaliknya dia punya aroma yang selalu di hindari orang. Tapi jauh di dalam rimbun putiknya begitu banyak bibit yang lebih nyata dari bibit bunga apapun, bibit yang tumbuh tidak hanya untuk kelangsungan hidupnya sendiri tapi juga untuk memenuhi kegemaran manusia untuk memakan bijinya.
Saat dia tumbuh sendiri, dia tidak terlihat cantik… tapi dia tidak pernah peduli bagaimana orang melihatnya. Dia hanya tumbuh dan terus berusaha bertahan hidup sampai kuacinya keluar. Saat dia hidup berdesakan mungkin tak lebih dari bunga-bunga dengan warna yang menusuk mata. Terlihat sama sehingga membuat tidak ada sekuntum bungapun yang istimewa diantara mereka. Tapi apa mereka peduli…? Tidak…! Mereka hanya bersatu dan bertahan hidup dengan cara masing-masing sebelum akhirnya layu bersama.
 Begitulah bunga jelek itu hidup, dia hanya butuh kesempatan dan kebebasan sebelum dia memeberikan hal terbaik yang dia bisa berikan meski setelah bijinya telah muncul dan di akui, maka selanjutnya dia akan layu dan tidak akan pernah tegak berdiri lagi bahkan meskipun manusia telah mnyiramnya dengan air dan pupuk terbaik sekalipun.


Aku ingin hidup cukup seperti itu… J

0 komentar:

Posting Komentar