Pakaian dan perhiasan adalah dua aspek
kemajuan dan peradaban. Meninggalkan keduanya berarti kembali kepada kehidupan
hewani ( tak berbusana ). Sedang hak milik wanita yang paling utama adalah
kemuliaan, rasa malu, dan kehormatan diri. Pakaian dalam islam bukanlah hanya
sekedar hiasan yang menempel ditubuh, tetapi pakaian yang menutup aurat. Dengan
islam mewajibkan setiap muslim untuk menutupi anggota tubuhnya yang menarik
lawan jenis..
Sedangkan masalah berhijab ( berbusana
yang menutupi seluruh bagian tubuh dari kepala hingga telapak kaki ) bagi
muslimah bukanlah masalah sepele, melainkan masalah besar dan substansi dalam
agama Islam. Berhijab bukanlah sisa peninggalan adat bangsa arab, yang membuat
muslimah non-arab, tidak boleh menirunya. Tapi yang diperselisihkan ada
tidaknya berhijab itu sehingga wanita muslimah bebas mengenakan atau tidak,
padahal hijab adalah suatu hukum yang tegas dan pasti bagi muslimah diwajibkan
oleh Allah untuk mengenakannya.
Hijab selayaknya dalah pakaian yang tidak
berwarna mencolok dan menarik mata, Hijab adalah ibadah karena Allah... bukan
karena tuntutan fashion dari wanita-wanita kafir. Allah menurunkan
surat Al-A’raf ayat 26 yang artinya :
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah
menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk
perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah
sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat”
Islam mengajarkan tata cara berhijab
dengan benar, Al-Qur’an surat Al-Ahzab ayat 33 enerangkan :
Hai
Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan
isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke
seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang.
Hukum
berjilbab atas wanita muslimah, suatu ketetapan yang tidak bisa ditawar-tawar
atau ditolak dengan dalih apapun, karena Allah yang kita sembah dengan ibadah
shalat dan yang lainnya, Dialah juga yang mewajibkan wanita muslimah untuk
berjilbab.Al ur'antelah memuat syarat-syarat pakaian yang wajib dikenakan oleh
wanita muslimah sampai dengan mengenakan pakaian yang memenuhi syari’at .
Sehingga jadilah wanita muslimah berbeda dengan wanita yang bukan muslimah
(baca: wanita kafir) dan memang seharusnya demikian.
Begitu
banyak wanita yang masih enggan mengenakan hijab karen alasan ingin menghijabi
hati terlebih dahulu, padahal perintah berhijab adalah perintah yan sesuai
dengan ayat di atas.langsung dari Allah.
Hijab
memang tidak bisa dijadikan barometer kealiman seseorang, tapi Hijab adalah
perintah Allah yang tidak dapat ditawar. Mereka mengatakan jilbab membuat panas
dan gerah, tapi mereka lupa bahwa panasnya berhijab tidak berarti apa-apa
dibanding panasnya api neraka.
Dari
Shofiyah binti Syaibah berkata: “Ketika kami bersama Aisyah radhiallahu’anha,
beliau berkata: “Saya teringat akan wanita-wanita Quraisy dan keutamaan
mereka.” Aisyah berkata: “Sesungguhnya wanita-wanita Quraisy memiliki
keutamaan, dan demi Allah, saya tidak melihat wanita yang lebih percaya kepada
kitab Allah dan lebih meyakini ayat-ayat-Nya melebihi wanita-wanita Anshor.
Ketika turun kepada mereka ayat: “Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung
ke dadanya.” (Q.S. An-Nur: 31) Maka para suami segera mendatangi istri-istri
mereka dan membacakan apa yang diturunkan Allah kepada mereka. Mereka
membacakan ayat itu kepada istri, anak wanita, saudara wanita dan kaum kerabatnya.
Dan tidak seorangpun di antara wanita itu kecuali segera berdiri mengambil kain
gorden (tirai) dan menutupi kepala dan wajahnya, karena percaya dan iman kepada
apa yang diturunkan Allah dalam kitab-Nya. Sehingga mereka (berjalan) di
belakang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam dengan kain penutup seakan-akan
di atas kepalanya terdapat burung gagak.”
begitulah kira-kira tunduknya para
muslimah pada zaman nabi yang penuh dengan ketaatan yang tulus untuk bersegera
kepada ALLAH dan Rasul-Nya.
Selain menjadi perintah yang turun
langsung dari Allah, hijab juga terkenal sebagai pakaina yang mengenal setiap
peradaban dan budaya manusia. ini dilihat dari berkembangnya tren hijab dari
masa-kemasa, dari zaman Rasulullah hingga masa sekarang. Lebih dari itu
pengidentitsan Hijab setiap wilayah negara juga berbeda-beda. Dari perbedaan
dan kemajuan zaman inilah timbul teori-teori baru tentang hijab. Hijab tak lagi
dipandang sebagai busanan yang membosankan. begitu banyak kemajuan tentang
Hijab baikdari segi mode atau kualitas kain yang tidak lagi monoton.
Namun
akibat ke kreatifan manusia atas tren hijab muncullah gaya hijab yang tidak
sesuai dengan apa yang Allah deskripsikan dalam Al Qur'an. Fenomena Hijab
trendy mulai bergelut dan memasyarakat. Saat ini Hijab merupakan trendi yang
paling di gemari oleh wanita muslimah. Pusat perbelanjaan sampai bisnis online
pun kian meraup pundi-pundi keuntungan besar karena adanya fenomena hijab saat
ini.
Biasanya dekat-dekat hari raya Idul
Fitri, hijab merupakan salah satu busana, fashion atau tren yang dicari-cari
oleh para kaum hawa muslimah. Maka dari itu pedagang ataupun pengusaha hijab
meraih rezeki yang melimpah, omzet mereka bisa sampai berlipat-lipat dari pada
biasanya, ini membuktikan bahwa muslimah di Indonesia mulai menyadari bahwa
berhijab yang sifatnya menutupi aurat merupakan salah satu kewajiban.
Hadirnya komunitas hijabers menjadi
fenomena tersendiri bagi busana muslim tanah air dalam setahun terakhir.
Pasalnya, fashion tersebut memberikan peningkatan yang signifikan dalam
berbagai aspek kehidupan tatanan masyarakat.
Komunitas Hijabers bisa dibilang menjadi
penggagas penggunaan jilbab dan busana muslim yang gaya, trendi, cantik dan
segar. Berkat mereka pula, jilbab dilirik anak muda yang menggemari dunia mode.
Kemunculan komunitas hijabers pada tahun 2012 dirasakan banyak aspek, tidak
saja memengaruhi pemakai hijab, tapi juga membuat peluang bisnis busana muslim
terbuka lebar. Hal itu juga membuat tren berbusana tersendiri menjadi lebih
membanggakan.
Kembali
lagi pada Hijab yang dimaksudkan dalam islam, fenomena Hijab trendy ini menjadi
perdebatan bak buah simalakama. Karena di satu sisi begitu banyak wanita yang
tertarik untuk mengenakan hijab namun disisi lain mereka tidak menghiraukan
komposisi yang benar menurut agama. Sebagan dari mereka tergerak mengaenakan
hijab karena desakan mode zaman bukan berdasarkan dorongan karena Allah SWT.
Kesalahkaprahan
trend hijab ini tentu saja tidak bisa di berantas dengan mudah. KARENA
MEMBERANTAS HAL YANG SUDAH MENJADI KOMUNITAS SUSAH. Selain itu akna timbul
elakan bahwa komunitas hijab tren ini berdiri tidak merugikan negara namun
bahkan bisa menaikkan pendapatan perorangan maupun negara selain itu karena
negara Indonesia merupakan negara dengan tatanan demokratisan, bukan negara
berbasis islam. Namun jika menitik pada agama, seseorang tidak selayaknya
melayangkan ideologinya pada lingkungan sekitar yang mengikatnya misal ideologi
sutu negara bisa saja berubah, karena kebutuhan suatu masyarakat bisa saja berubah....
Semoga Allah menggolongkan kita dengan orang-orang yang sadar ^_^





0 komentar:
Posting Komentar