Jika Tembok Konstatinopel
hancur dalam sekali serang, maka tahun 1453 bukanlah tahun kaum yang menang.
Jika Tembok Konstatinopel hancur dalam sekali serang, maka Al Fatih tidak akan 'hidup' hingga sekarang.
Jika Tembok Konstatinopel hancur dalam sekali serang, maka penantian 800 tahun golongan Islam tidak akan pernah mengandung kenang.
Jika Tembok Konstatinopel hancur dalam sekali serang, maka istikharah 3 lapis pejuang hanyalah pemanis medan perang.
Aku bukan Al Fatih yang ber Ayahkan Sultan Murad. Bahkan cintaku pada Allah & Rasulullah adalah gunung berbanding biji Zarra.
Dari Sang Penakluk aku ingin belajar rasanya bersandar dengan hati yang Lillah.
Menembus sebongkah perasaan yang dilindungi tembok iman & parit ketaqwaan...
Aku ingin hidup di 'kota' yang ada di baliknya...
Nanti, setelah aku mampu memindahkan 70 kapal kebaikan melewati daratan panjang menuju 'Teluk Golden Horn yang terantai'... Insya Allah itu hatimu.
Atika R. Ningsih
,, Hanya puisi
Jika Tembok Konstatinopel hancur dalam sekali serang, maka Al Fatih tidak akan 'hidup' hingga sekarang.
Jika Tembok Konstatinopel hancur dalam sekali serang, maka penantian 800 tahun golongan Islam tidak akan pernah mengandung kenang.
Jika Tembok Konstatinopel hancur dalam sekali serang, maka istikharah 3 lapis pejuang hanyalah pemanis medan perang.
Aku bukan Al Fatih yang ber Ayahkan Sultan Murad. Bahkan cintaku pada Allah & Rasulullah adalah gunung berbanding biji Zarra.
Dari Sang Penakluk aku ingin belajar rasanya bersandar dengan hati yang Lillah.
Menembus sebongkah perasaan yang dilindungi tembok iman & parit ketaqwaan...
Aku ingin hidup di 'kota' yang ada di baliknya...
Nanti, setelah aku mampu memindahkan 70 kapal kebaikan melewati daratan panjang menuju 'Teluk Golden Horn yang terantai'... Insya Allah itu hatimu.
Atika R. Ningsih
,, Hanya puisi



0 komentar:
Posting Komentar